Hero AOV yang Terlihat Lemah tapi Sebenarnya Sangat Situasional
Hero AOV yang Terlihat Lemah tapi Sebenarnya Sangat Situasional – Halo, Sobat Louisjordan!
Kalau kamu sudah cukup lama main Arena of Valor (AOV), pasti pernah mengalami momen ini: ada hero yang jarang dipick, sering diremehkan, bahkan dianggap “beban tim”. Tapi anehnya, di tangan pemain tertentu atau dalam komposisi tim tertentu, hero itu justru berubah jadi mimpi buruk bagi lawan.
Nah, di artikel ini kita akan membahas hero-hero AOV yang terlihat lemah secara umum, tapi sebenarnya sangat kuat secara situasional. Artinya, mereka bukan hero fleksibel, bukan juga hero “aman” untuk semua kondisi—namun ketika syaratnya terpenuhi, dampaknya bisa luar biasa.
Mari kita bongkar satu per satu, dan sekaligus menguji asumsi umum yang sering bikin hero-hero ini disalahpahami.
1. Preyta – Mage Lambat yang Disepelekan
Mari kita jujur dulu, Sobat.
Kalau lihat Preyta di layar pick, reaksi banyak pemain biasanya: “Ngapain pick ini?”
Kenapa Terlihat Lemah?
- Mobilitas awal sangat rendah
- Damage early game tidak mengintimidasi
- Butuh item dan level untuk terasa “hidup”
- Sangat rentan sebelum ultimate aktif
Asumsi umum: mage bagus harus punya burst cepat dan CC instan. Dari sudut pandang ini, Preyta jelas kalah jauh dari Tulen, Liliana, atau Krixi.
Di Mana Asumsi Ini Keliru?
Preyta bukan mage burst, tapi mage DPS area jangka panjang. Banyak pemain menilainya dengan kriteria yang salah.
Kapan Preyta Jadi Sangat Kuat?
- Komposisi tim defensif atau scaling
- Lawan minim assassin burst
- Teamfight panjang di area sempit (Dark Slayer, Abyssal)
Dalam kondisi ini, Preyta bisa:
- Menjaga area dengan damage konstan
- Mengontrol tempo fight dari jarak aman
- Menjadi “turret hidup” saat late game
Kesimpulan kecil: Preyta bukan lemah—dia cuma tidak cocok untuk game cepat dan chaotic.
2. Arduin – Tank yang Terlalu “Biasa”
Arduin sering masuk kategori hero “nanggung”. Tidak sekeras Baldum, tidak seagresif Lumburr, dan tidak sepopuler Thane.
Kenapa Terlihat Lemah?
- Tidak punya CC instan yang mematikan
- Damage terasa biasa saja
- Skill terlihat simpel dan “old school”
Asumsi pemain: tank kuat harus bisa membuka war atau mengunci lawan.
Kontra-Argumen: Fungsi Arduin Berbeda
Arduin adalah tank attrition—ia menang lewat durability + sustain + zoning, bukan burst CC.
Kapan Arduin Bersinar?
- Tim dengan carry jarak dekat (Omen, Allain, Veres)
- Lawan mengandalkan poke damage
- Teamfight panjang, bukan one-shot war
Arduin bisa:
- Berdiri lama di garis depan
- Memaksa lawan menghabiskan skill padanya
- Menjadi “tembok hidup” yang melelahkan mental lawan
Kesalahan umum: memaksa Arduin jadi initiator utama.
3. Wisp – Marksman yang Dianggap Tidak Meta
Wisp sering dicap sebagai marksman “ketinggalan zaman”. Banyak pemain lebih memilih Hayate, Laville, atau Capheny.
Kenapa Terlihat Lemah?
- Tidak punya dash
- Bergantung pada positioning
- Rentan assassin
Asumsi populer: marksman tanpa mobilitas = auto kalah.
Uji Logika
Ini asumsi yang terlalu disederhanakan. Mobilitas penting, tapi kontrol area dan damage objektif juga krusial.
Kondisi Ideal untuk Wisp
- Tim dengan peel kuat (Alice, Thane, Zip)
- Fokus pada objektif dan zoning
- Lawan minim flanker cepat
Dalam situasi ini, Wisp:
- Sangat kuat saat siege tower
- Sulit didekati saat ultimate aktif
- Memberi tekanan psikologis lewat area denial
Wisp bukan untuk solo carry, tapi sangat kuat dalam tim disiplin.
4. Mganga – Support yang Diremehkan
Mganga sering jadi korban stigma: “damage kecil”, “support aneh”, “tidak meta”.
Kenapa Terlihat Lemah?
- Tidak punya heal instan besar
- Damage terasa pelan
- Skill terlihat tidak flashy
Asumsi keliru: support bagus harus langsung menyelamatkan tim.
Perspektif Alternatif
Mganga adalah support attrition dan anti-sustain. Dia menang dengan:
- Damage racun bertahap
- Debuff heal lawan
- Tekanan konstan di lane
Kapan Mganga Efektif?
- Lawan punya hero regen/heal (Taara, Kil’Groth, Helen)
- Tim ingin menang pelan tapi pasti
- Game tidak terlalu burst-heavy
Mganga membuat lawan:
- Sulit sustain di fight
- Terpaksa mundur lebih sering
- Kehilangan momentum tanpa sadar
Masalahnya bukan di hero, tapi di ekspektasi pemain.
5. Skud – Fighter “Sekali Pukul” yang Diremehkan
Skud sering dianggap hero meme: masuk, tonjok, mati.
Kenapa Terlihat Lemah?
- Sangat bergantung timing
- Tidak konsisten di tangan pemain awam
- Gagal combo = tidak berguna
Asumsi umum: hero kuat harus konsisten sepanjang game.
Kontra-Poin Penting
Skud adalah hero momentum dan pick-off, bukan DPS berkelanjutan.
Situasi Ideal Skud
- Lawan punya backline tipis
- Map control bagus
- Tim bisa follow-up cepat
Dalam kondisi ini, Skud bisa:
- Menghapus core lawan dalam 1 kesalahan
- Mengubah hasil teamfight sebelum dimulai
- Memaksa lawan bermain sangat defensif
Skud bukan lemah—dia hanya tidak memaafkan kesalahan pemain.
Kesimpulan: Lemah atau Salah Digunakan?
Sobat Arena, dari semua contoh di atas, satu benang merahnya jelas:
👉 Hero terlihat lemah bukan karena kit-nya buruk, tapi karena konteksnya diabaikan.
Banyak pemain:
- Menilai hero tanpa mempertimbangkan komposisi tim
- Memaksakan gaya bermain yang tidak sesuai
- Terjebak bias meta dan popularitas
Hero situasional menuntut:
- Pemahaman peran yang matang
- Disiplin bermain tim
- Kesadaran kapan tidak mem-pick mereka
Jadi, lain kali kamu melihat hero “aneh” di draft, jangan langsung meremehkan. Bisa jadi, justru kamu yang belum melihat situasi di mana hero itu seharusnya bersinar.
Leave a Reply